Wednesday, April 24, 2019

Dulu saya punya teman, kemana-mana bareng. Mau cerita ini itu, bebas, kami dekat. Berjalannya waktu, kami semakin jarang bertemu, disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Tak apa, memang harus seperti ini.

Dulu saya punya teman, biasa saja. Bertukar sapa sesekali saja. Jarang saling tanya kabar, tapi ketika satu sama lain butuh atau sedang merayakan kebahagiaan, kami kompak. Iya, memang seperti ini adanya.


Dulu saya punya teman. Bertemu baru sekali, tapi setelahnya rutin saling berkabar, sampai sekarang, dan hanya melalui sosial media. Sesekali video call. Hanya sesekali, tapi durasinya lama. Tak apa, memang caranya seperti ini.


Dulu saya punya teman. Tak pernah berkabar, tiba-tiba datang dan ada maunya. Ada, ada teman seperti ini. Bantu, semampunya.


Dulu saya punya teman. Teman yang selalu saya harapkan bisa paham situasi saya tanpa saya bercerita, saya egois. Nyatanya, dia diam. Sebaliknya, orang yang tak terduga justru menyapa dan menjadi pendengar. Tak apa, memang segala harapan ada yang meleset.


Dulu saya punya teman. Teman yang selalu saya ganggu, yang selalu saya mintain tolong, dan segala hal yang memberatkan dia. Kadang saya jadi teman yang ngeribetin


Dulu saya punya teman, sering curhat. Tapi, selalu menjadi pendengar tak selamanya bagus, kita punya batasan.


Dulu saya punya teman, biasa saja tapi sekarang bisa lebih akrab. Dulu dia tak pernah cerita urusan pribadinya tapi tidak untuk sekarang, dia lebih terbuka. Saya senang, bahwa saya ditempatkan sebagai orang yang dia percaya.


Sekarang, semua teman itu ada yang masih menjadi teman tapi lebih banyak yang sudah hilang. Semua berproses dan ada masanya mereka pergi dan terganti, pun dengan kita di kehidupan orang lain. Ada masanya kita pergi.

No comments:

Post a Comment

Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? – Ketika Ekonomi Tak Lagi Netral

Apa yang terlintas saat mendengar nama Adam Smith? Kebanyakan dari kita akan mengingatnya sebagai Bapak Ekonomi Modern —pelopor ide “tangan...